Sunday, September 24, 2017

Misteri Hujan Hewan Darah dan Materi Organik

Misteri Hujan Hewan Darah serta Materi Organik
Saat kita mendengar nama " hujan hewan ", mungkin saja kita selekasnya berasumsi bila sebutan ini yaitu satu idiom. Namun, sebenarnya nama ini betul-betul mencerminkan momen yang sesungguhnya, yakni jatuhnya hewan-hewan seperti ikan atau kodok ke bumi. Meskipun terkait dengan hewan, fenomena ini seringkali dihubungkan dengan fenomena meteorologi. Kita juga akan lihat penyebabnya kelak.


Fenomena ini tidak terbatas pada jatuhnya hewan-hewan saja, tetapi juga materi-materi organik yang lain seperti daging atau darah. Meskipun baru digemparkan belakangan ini oleh sebagian tayangan tv, catatan tentang kehadiran fenomena ini sesungguhnya sudah berjalan mulai sejak beberapa ribu th. yang kemarin.

Misalnya Pliny the elder, seseorang sejarawan Romawi kuno yang hidup pada era ke-1 Masehi, sempat mengatakan tentang ada badai kodok serta ikan. Jadi, fenomena ini terang bukanlah suatu hal yang baru. Lantas, apa yang mengakibatkannya? apakah fenomena ini terkait dengan momen mistik?

Jawabannya yaitu tidak.

Penyebabnya Fenomena

Sempatkah kalian melihat film berjudul Twister? Dari judulnya saja, kita ketahui bila film ini menceritakan tentang tornado. Dalam satu diantara adegan, kita dapat lihat satu tornado bertaraf 5 mengamuk dengan ganas. Tiap-tiap benda yang dilewatinya diisap serta terangkat ke langit, entahkah itu tempat tinggal, pohon, sapi atau bahkan juga satu truk memiliki ukuran besar.





Sesudah sebagian lama terbang di langit, saat kemampuan tornado melemah, benda-benda yang diterbangkannya juga akan terhempas kembali pada bumi. Dengan kata beda berlangsung hujan puing, pohon, truk serta sudah pasti sapi. Sama dengan apa yang digambarkan di film itu, fenomena hujan hewan umumnya dikarenakan oleh angin tornado, baik yang terjadi di darat atau di perairan (waterspout).

Satu diantara gambaran yang meneguhkan rangkuman ini bisa diketemukan pada kutipan berita yang dimuat di satu harian di Minneapolis, Amerika Serikat, pada Juli 1901 : " Saat badai tengah bertiup dengan kencang-kencangnya, tampak satu himpunan besar berwarna hijau seperti tengah turun dari langit, lantas terdengar nada rintik-rintik aneh. Saat badai reda, beberapa masyarakat temukan beragam type katak menutupi ruang seluas lebih dari empat blok, bahkan juga di sebagian ruas jalan, jumlah katak begitu banyak hingga jalan itu tidak bisa dilalui.




Fenomena Hujan Katak

Dalam keadaan badai petir, satu tornado mini dapat terjadi. Saat tornado mini ini bergerak melalui air dimana ada ikan atau kodok, angin ini juga akan mengangkat hewan-hewan itu sampai sejauh sebagian mil. Cepat atau lambat, hewan-hewan itu juga akan jatuh ke bumi. Dalam sebagian masalah, ada hewan yang masih tetap hidup saat jatuh ke bumi. Dalam masalah beda, hewan-hewan itu telah ada dalam keadaan mati atau membeku.

Terkecuali karna tornado yang terjadi di darat, hujan hewan dapat juga dikarenakan oleh tornado yang terjadi di perairan yang umum dimaksud waterspout. Kolom udara ini diprediksikan sudah menghisap hewan-hewan yang berada di air serta membawanya terbang sampai menjatuhkannya ke tempat beda yang berjarak cukup jauh. Ini dapat menerangkan kenapa dalam banyak masalah hujan hewan, cuma diketemukan hewan-hewan air tidak ada benda-benda darat seperti rumput atau kayu.

Hujan hewan yang lain Dari pada fenomena hujan hewan, hujan ikan yaitu yang paling umum berlangsung. Umpamanya, momen hujan ikan di Singapura yang berlangsung pada th. 1861. Lantas di Rhode Island pada th. 1900 atau di India pada th. 2009.

Yang menarik yaitu, fenomena hujan ikan yang berlangsung tiap-tiap th. pada bulan Mei serta Juli di Honduras serta sudah berjalan sepanjang lebih dari 100 th.. Sebelumnya hujan ikan berlangsung, memanglah beberapa masyarakat senantiasa memberikan laporan ada badai petir yang mendahului.




Hujan Ikan Di Honduras

Terkecuali ikan, hewan lainpun tidak luput dari cengkeraman sang tornado. Pada tanggal 1 Agustus 1869, seekor sapi diberitakan jatuh dari langit di California. Momen sama juga dilaporkan pada th. 1876 di Kentucky. Saat ini, dengan terdapatnya tehnologi camera perekam, sapi yang dibawa angin serta jatuh bukanlah sekali lagi suatu hal yang aneh. Ya, meskipun cuma satu ekor, sapi yang jatuh juga dimaksud " hujan sapi ".

Pada th. 1894, di kota Bath, Inggris, berlangsung hujan ubur-ubur. Pada tanggal 6 April 2007, berlangsung hujan laba-laba di propinsi Salta, Argentina. Pada tanggal 11 Juli 2007, berlangsung hujan cacing di Louisiana, Amerika Serikat. Cacing-cacing ini diakui terikut semprotan angin dari Lacassine Bayou yang jaraknya 5 mil dari tempat momen.

Pada Juni 2009, berlangsung hujan ikan serta kecebong di perfektur Ishikawa, Jepang. Momen Ishikawa ini yaitu momen yang paling banyak dikabarkan oleh tv Indonesia belakangan ini. Lantas, pada tanggal 11 Maret 2010, ada momen jatuhnya lebih dari 100 ekor burung jalak di Somerset, Inggris, yang dilaporkan oleh seseorang wanita bernama Julie Knight. Meskipun momen ini belum juga pasti dikarenakan oleh angin, namun momen inipun dapat dikatakan sebagai " hujan burung ".

Tetapi, masih tetap ada satu misteri yang mencakup fenomena hujan hewan. Teori tornado mini memanglah dipandang dapat menjawab langkah membawa hewan-hewan itu ke darat, tetapi beberapa peneliti masih tetap berupaya mengerti kenapa biasanya cuma satu type hewan yang jatuh ke bumi setiap saat hujan. Teka-teki ini masih tetap belum juga memperoleh solusinya sampai sekarang ini.

Hujan Materi Organik

Sama juga dengan fenomena hujan hewan, masih tetap ada bebrapa sisi dari fenomena hujan organik yang belum juga bisa dipahami seutuhnya oleh beberapa peneliti. Satu diantara momen yang terkait dengan hujan materi organik yaitu momen hujan daging fresh yang berlangsung pada tanggal 9 Maret 1876 di Olympia Springs, Amerika Serikat.



Fenomena Hujan Daging

Menurut saksi mata bernama Allen Crouch, potongan-potongan daging kecil berjatuhan dari langit di halaman tempat tinggalnya seperti butiran salju. Dua pria yang mempelajari gumpalan daging itu menyimpulkan bila daging itu peluang yaitu daging menjangan atau domba. Beberapa orang mengira bila daging itu datang dari domba-domba yang tercincang saat terikut angin. Lantas, yang kembali digemparkan pada belakangan ini yaitu hujan merah atau hujan darah Kerala yang berlangsung pada Juli 2001 di India.

Hujan darah pertama kita mesti tahu bila arti " hujan darah " tidak bermakna betul-betul berlangsung hujan darah hewan atau manusia. arti " darah " cuma dipakai untuk mengacu pada materi air yang berwarna merah. Meskipun langka, tetapi momen " hujan darah " bukanlah suatu hal yang asing dalam dunia sains. Misalnya, momen sama sempat juga berlangsung di Columbia pada th. 2008.

Sebagian peneliti sudah memajukan teori tentang hujan merah kerala (berlangsung di Kerala -India). Salah nya ialah teori yang menyebutkan bila materi merah yang bercampur dengan air hujan itu yaitu darah beberapa besar kelelawar yang terbunuh saat melalui badai. Beberapa beda yakin bila warna merah itu yaitu pasir gurun yang terikut angin serta jatuh berbarengan dengan hujan.



Hujan Darah Kerala

Lantas, ada sekali lagi teori yang mengatakan bila partikel merah itu sesungguhnya yaitu debu meteor. Pada masalah " Hujan darah " yang berlangsung di Sisilia pada th. 1872, peneliti berhasil temukan ada kandungan besi merah yang buat mereka ambil rangkuman bila partikel merah itu disebabkan oleh debu meteor.

Beberapa sekali lagi yakin bila warna merah itu mungkin saja dikarenakan oleh semacam bakteri karna momen sama (meskipun bukanlah berbentuk hujan) sempat tampak di Antartika dimana saljunya keluarkan cairan merah seperti darah.

Tetapi, tentang hujan darah Kerala sendiri, pemerintah India dengan Centre for earth Science Studies sudah keluarkan pernyataan resmi bila penyebabnya warna merah itu yaitu spora semacam alga yang termasuk juga kedalam genus Trentepohlia. Alga type ini memanglah terdapat banyak di lokasi Kerala.

Penemuan ini di dukung oleh Seffield University yang dengan Dr Chandra Wickramasinghe sudah lama pelajari spora stratosferik dengan mendalam. Dr Wickramasinghe menyebutkan bila partikel merah pada hujan Kerala serupa seperti jamur karat serta ia juga menyatakan tidak ada darah pada hujan itu.

Tetapi, meskipun penyebabnya warna merah pada air hujan sudah di ketahui, beberapa peneliti masih tetap belum juga dapat meyakinkan bagaimana spora itu dapat menebar dalam jumlah besar. Namun sekurang-kurangnya, kita ketahui bila momen ini sekalipun tidak terkait dengan suatu hal yang mistik.

Momen Nelayan Jepang serta Sapi Langit Adapula satu cerita yang cukup unik. Cerita ini tentang seekor sapi yang jatuh dari langit. Pada th. 1997, Tim penyelamat Jepang berhasil menyelamatkan beberapa nelayan yang sudah berpegangan di puing-puing kapal mereka di laut terlepas sepanjang sebagian jam. Yang menarik yaitu, pernyataan mereka tentang penyebabnya tenggelamnya kapal mereka.

Menurut nelayan-nelayan itu, seekor sapi sudah jatuh dari langit, menerpa kapal mereka serta mengakibatkannya terbenam. Pihak berwenang yang mendengar pernyataan ini menduga mereka tengah bercanda serta selekasnya jadi gusar. Lantas, beberapa nelayan yang malang itu selekasnya dimasukkan kedalam penjara.

Selang beberapa saat, angkatan udara Rusia memberitahukan pada pihak otoritas Jepang bila satu diantara kru mereka sudah mengambil seekor sapi untuk dipotong. Sapi itu lalu dimasukkan kedalam pesawat serta dibawa terbang. Saat pesawat tengah mengudara, sapi itu jadi geram serta mulai mengacaukan kondisi, mungkin saja karna cemas atau mabuk udara.

Untuk menyelamatkan pesawat yang tengah terbang, beberapa kru mengambil keputusan untuk melempar sapi itu keluar. Serta pada akhirnya, kita memperoleh satu kapal penangkap ikan yang terbenam serta beberapa nelayannya yang berjuang memegang puing-puing kapal sembari berupaya merenungkan momen yang barusan menerpa mereka. Ini baru namanya hari yang sial. Jadi, saat kita lihat keluar serta masih tetap lihat tetesan air bening yang turun ke bumi, mungkin saja kita mesti mengucap sukur karena itu (ingat nasib beberapa nelayan Jepang).

No comments:

Post a Comment